SMA Negeri Pilihan Jakarta dan kenaifan gue
1. Mendaftar ke SMA yang telah ditentukan oleh Dikmentidki pada jadwal yang telah ditentukan.
2. Setiap SMA akan memberikan nilai NEM minimal untuk seleksi penerimaan sekolahnya dan setiap calon siswa disarankan memilih SMA yang dituju sesuai dengan nilai NEM minimal yang ditentukan oleh SMA tersebut, agar dapat lulus persyaratan seleksi.
3. Setiap sekolah di Jakarta hanya menerima 5% untuk penerimaan siswa dari luar Jakarta.
4. Informasi siswa yang lulus seleksi bisa dilihat di Website Diktinas per hari pendaftaran.
Setelah membaca ketentuan tersebut, apa yang ada dibenak di gue ? gileee, canggih amat seleksi masuk SMA Negeri Jakarta dan bebas KKN.
Tapi ternyata "aku hanyalah manusia bodoh...." begitu kata Ada Band, yang tertipu dan tertipu lagi. Enggak tahu terlalu bodoh atau terlalu naif. Gue bener-bener pikir, tidak bisa melakukan KKN dengan sekolah manapun... but again, I was wrong.
Y, keponakan yang tinggal dirumah gue, pusing, NEM-nya dia 26,5 seharusnya bisa masuk ke banyak sekolah favorit di Jakarta, tapi berhubung kami tinggal di perumahan yang sudah masuk daerah Tambun, seluruh SMA pilihan tersebut seperti "menutup" pintu dengan alasan hanya menerima 5% dari calon siswa luar Jakarta. Seleksi periode pertama, gagal, namanya tercantum di website sebagai calon siswa yang "tidak diterima disekolah pilihan manapun".
Sekolah swasta ? mana ada sekolah swasta yang bagus yang masih menerima pendaftaran hari gini, semua sudah tutup per Maret kemaren. Memang kesalahan kami, kami tidak mendaftarkan di sekolah swasta, karena terlalu pe-de pasti bisa masuk sekolah negeri.
Diantara keputus-asaan, datanglah "uluran tangan" itu, katanya bisa membantu" asal ada "uang bantu". No problem kita bilang, uang gak masalah, nasib masa depan anak lebih penting daripada segepok uang. 7 juta saja, done deal, deal done, pada periode kedua pendaftaran nama Y muncul di website dengan keterangan "diterima disekolah pilihan SMAN XXX".
Bersyukur ? tentu saja, akhirnya anak itu bisa sekolah di salah satu SMA favorit negeri di Jakarta.
Kesal ? tentu saja, kalau tahu bisa pakai "uang bantu" kan mending dari pertama diurusin, mana tahu malah bisa masuk sekolah paling favorit... tapi dengar-dengar sih masuk SMAN Jakarta yang paling favorit diperlukan "uang bantu 20 juta lebih".... walah....
Kesimpulannya ? hidup di Jakarta, uang saja tidak cukup, harus punya koneksi, koneksi saja tidak cukup, harus punya uang.
Jadi ? ya gue harus mengencangkan ikat pinggang lagi biar bisa menabung lebih banyak buat anak gue yang sekarang di TK ... kayaknya dijamannya dia nanti, 20 juta saja tidak cukup.... hiks.

