Cycle of Life = "Kutukan Hidup ?"
Hari ini tumben-tumbenan M nge-buzz gue, si teman lama yang merantau keluar negeri - katanya "ikut istri" - yang kalau sedang ingat akan nge-buzz atau kirim gue email, tapi seringnya enggak ingat buat contact gue, ataupun baru ingat contact gue kalau dah lebih setahun enggak pernah contact gue, ataupun tiba-tiba contact gue karena ternyata dia sedang di Jakarta (hehehe... jangan marah ye... tapi loe selalu dihati gue kok, abis belum ada yang bisa menggantikan loe dalam soal ilmu photography sih...hehehe).
Kembali ke laptop, hari ini M nge-buzz gue, seperti biasa obrolan dimulai dengan basa basi apa kabar, terus ngobrolin kerja dimana, sedang mengerjakan project apa, kabar keluarga masing-masing bagaimana, dan pertanyaan-pertanyaan rutin lainnya, yang kalau ditanyakan sudah tahu jawabannya, kalau tidak ditanyakan rasanya enggak sreg dalam awal pembicaraan. Terus seperti biasa, gue tanya "calon buntut loe udah ada belum ?", dan as expected M menjawab "belum nih.... kayaknya gue enggak jago".... walah. Terus dia balik nanya "Audrey udah ada adiknya belum ?", dan jawaban standard gue "belum nih, belum pengen". Basi banget kan ?
Terus gue bilang sebenarnya gue enggak pengen nanya, tapi entah kenapa, kalau ada yang sudah married pastinya deh pertanyaan selanjutnya "udah ada buntut belum ?".
Kalau udah punya anak satu, pasti deh pertanyaan berikutnya "udah ada adiknya belum ?... satu lagi dong..".
Dan selanjutnya kalau anaknya dah gede, pertanyaan berubah menjadi "udah mantu belum ?"
Kalau dah punya mantu, next question "udah ada cucunya ?".... and on...and on ... and on.....
Oh ya... balik lagi dari awal, sebelum pertanyaan semua itu, runtutan pertanyaan yang diajukan ke setiap pribadi yang menjelang dewasa "udah lulus ya, udah kerja belum ?", "kan udah kerja tuh, udah punya pacar, kapan married ?", setelah married pertanyaannya itu tadi ... dah punya anak belum ?
M bilang, itulah kehidupan, gue bilang itulah cycle of life, atau tepatnya menurut gue itulah "kutukan hidup".... kenapa ada pressure married, punya anak, dsbnya itu dalam kehidupan ? Gue bilang ke M, karena pendahulu-pendahulu kita sudah "terjebak" dalam cycle itu dan mereka juga pengen "menjebak" generasi berikutnya...... hehehe.... jadi supaya adil, semua orang merasakan cycle itu.
Jangan salah sangka, gue juga bagian dari cycle itu, dan gue menikmatinya. Hanya kadang terpikir saja, kalau gue ketemu teman gue yang baru married, pasti gue "gatal" pengen nanyain apakah dia sudah ada si calon bayi atau belum, padahal kan gak harus ditanyakan, it's their own business toh. Tapi mungkin gue pikir, biasanya orang-orang juga bertanya hal yang sama ke gue, jadi ya gue bertanya hal yang sama ke orang-orang yang sedang mengalami "nasib" yang sama dengan gue..... what a life....
Terus pembicaraan lanjut ke another cycle, keinginan setiap orang untuk mempunyai lebih dari yang ada sekarang, udah punya motor pengen punya mobil, udah punya mobil pengen punya yang lebih bagus, udah punya ini pengen yang itu, dan daftar pengen bertambah terus. Kata orang yang namanya kebutuhan tidak pernah turun, selalu meningkat. Sekali sudah makan ayam, pastinya ingin lagi makan ayam, sekali sudah mempunyai barang bagus biasanya sudah tidak mau mempunyai barang dengan kualitas dibawahnya. Inilah yang secara pintar di"tangkap" oleh para produsen, memproduksi barang-barang untuk memenuhi keinginan para user/pembelinya. Ini kata orang Marketing, namanya menangkap kebutuhan dan keinginan pembeli, kalau secara teori ekonomi, kalau gak salah ini namanya Economy Macro.... kalau teorinya gue ya itu tadi "kutukan hidup"....hahaha. Sorry, bukannya gue anti kehidupan, gue hanya gak punya nama yang lebih indah untuk memberi nama istilah cycle ini....hehehe
Kembali ke laptop, hari ini M nge-buzz gue, seperti biasa obrolan dimulai dengan basa basi apa kabar, terus ngobrolin kerja dimana, sedang mengerjakan project apa, kabar keluarga masing-masing bagaimana, dan pertanyaan-pertanyaan rutin lainnya, yang kalau ditanyakan sudah tahu jawabannya, kalau tidak ditanyakan rasanya enggak sreg dalam awal pembicaraan. Terus seperti biasa, gue tanya "calon buntut loe udah ada belum ?", dan as expected M menjawab "belum nih.... kayaknya gue enggak jago".... walah. Terus dia balik nanya "Audrey udah ada adiknya belum ?", dan jawaban standard gue "belum nih, belum pengen". Basi banget kan ?
Terus gue bilang sebenarnya gue enggak pengen nanya, tapi entah kenapa, kalau ada yang sudah married pastinya deh pertanyaan selanjutnya "udah ada buntut belum ?".
Kalau udah punya anak satu, pasti deh pertanyaan berikutnya "udah ada adiknya belum ?... satu lagi dong..".
Dan selanjutnya kalau anaknya dah gede, pertanyaan berubah menjadi "udah mantu belum ?"
Kalau dah punya mantu, next question "udah ada cucunya ?".... and on...and on ... and on.....
Oh ya... balik lagi dari awal, sebelum pertanyaan semua itu, runtutan pertanyaan yang diajukan ke setiap pribadi yang menjelang dewasa "udah lulus ya, udah kerja belum ?", "kan udah kerja tuh, udah punya pacar, kapan married ?", setelah married pertanyaannya itu tadi ... dah punya anak belum ?
M bilang, itulah kehidupan, gue bilang itulah cycle of life, atau tepatnya menurut gue itulah "kutukan hidup".... kenapa ada pressure married, punya anak, dsbnya itu dalam kehidupan ? Gue bilang ke M, karena pendahulu-pendahulu kita sudah "terjebak" dalam cycle itu dan mereka juga pengen "menjebak" generasi berikutnya...... hehehe.... jadi supaya adil, semua orang merasakan cycle itu.
Jangan salah sangka, gue juga bagian dari cycle itu, dan gue menikmatinya. Hanya kadang terpikir saja, kalau gue ketemu teman gue yang baru married, pasti gue "gatal" pengen nanyain apakah dia sudah ada si calon bayi atau belum, padahal kan gak harus ditanyakan, it's their own business toh. Tapi mungkin gue pikir, biasanya orang-orang juga bertanya hal yang sama ke gue, jadi ya gue bertanya hal yang sama ke orang-orang yang sedang mengalami "nasib" yang sama dengan gue..... what a life....
Terus pembicaraan lanjut ke another cycle, keinginan setiap orang untuk mempunyai lebih dari yang ada sekarang, udah punya motor pengen punya mobil, udah punya mobil pengen punya yang lebih bagus, udah punya ini pengen yang itu, dan daftar pengen bertambah terus. Kata orang yang namanya kebutuhan tidak pernah turun, selalu meningkat. Sekali sudah makan ayam, pastinya ingin lagi makan ayam, sekali sudah mempunyai barang bagus biasanya sudah tidak mau mempunyai barang dengan kualitas dibawahnya. Inilah yang secara pintar di"tangkap" oleh para produsen, memproduksi barang-barang untuk memenuhi keinginan para user/pembelinya. Ini kata orang Marketing, namanya menangkap kebutuhan dan keinginan pembeli, kalau secara teori ekonomi, kalau gak salah ini namanya Economy Macro.... kalau teorinya gue ya itu tadi "kutukan hidup"....hahaha. Sorry, bukannya gue anti kehidupan, gue hanya gak punya nama yang lebih indah untuk memberi nama istilah cycle ini....hehehe

