Wednesday, June 27, 2007

Cycle of Life = "Kutukan Hidup ?"

Hari ini tumben-tumbenan M nge-buzz gue, si teman lama yang merantau keluar negeri - katanya "ikut istri" - yang kalau sedang ingat akan nge-buzz atau kirim gue email, tapi seringnya enggak ingat buat contact gue, ataupun baru ingat contact gue kalau dah lebih setahun enggak pernah contact gue, ataupun tiba-tiba contact gue karena ternyata dia sedang di Jakarta (hehehe... jangan marah ye... tapi loe selalu dihati gue kok, abis belum ada yang bisa menggantikan loe dalam soal ilmu photography sih...hehehe).

Kembali ke laptop, hari ini M nge-buzz gue, seperti biasa obrolan dimulai dengan basa basi apa kabar, terus ngobrolin kerja dimana, sedang mengerjakan project apa, kabar keluarga masing-masing bagaimana, dan pertanyaan-pertanyaan rutin lainnya, yang kalau ditanyakan sudah tahu jawabannya, kalau tidak ditanyakan rasanya enggak sreg dalam awal pembicaraan. Terus seperti biasa, gue tanya "calon buntut loe udah ada belum ?", dan as expected M menjawab "belum nih.... kayaknya gue enggak jago".... walah. Terus dia balik nanya "Audrey udah ada adiknya belum ?", dan jawaban standard gue "belum nih, belum pengen". Basi banget kan ?

Terus gue bilang sebenarnya gue enggak pengen nanya, tapi entah kenapa, kalau ada yang sudah married pastinya deh pertanyaan selanjutnya "udah ada buntut belum ?".

Kalau udah punya anak satu, pasti deh pertanyaan berikutnya "udah ada adiknya belum ?... satu lagi dong..".

Dan selanjutnya kalau anaknya dah gede, pertanyaan berubah menjadi "udah mantu belum ?"

Kalau dah punya mantu, next question "udah ada cucunya ?".... and on...and on ... and on.....

Oh ya... balik lagi dari awal, sebelum pertanyaan semua itu, runtutan pertanyaan yang diajukan ke setiap pribadi yang menjelang dewasa "udah lulus ya, udah kerja belum ?", "kan udah kerja tuh, udah punya pacar, kapan married ?", setelah married pertanyaannya itu tadi ... dah punya anak belum ?

M bilang, itulah kehidupan, gue bilang itulah cycle of life, atau tepatnya menurut gue itulah "kutukan hidup".... kenapa ada pressure married, punya anak, dsbnya itu dalam kehidupan ? Gue bilang ke M, karena pendahulu-pendahulu kita sudah "terjebak" dalam cycle itu dan mereka juga pengen "menjebak" generasi berikutnya...... hehehe.... jadi supaya adil, semua orang merasakan cycle itu.

Jangan salah sangka, gue juga bagian dari cycle itu, dan gue menikmatinya. Hanya kadang terpikir saja, kalau gue ketemu teman gue yang baru married, pasti gue "gatal" pengen nanyain apakah dia sudah ada si calon bayi atau belum, padahal kan gak harus ditanyakan, it's their own business toh. Tapi mungkin gue pikir, biasanya orang-orang juga bertanya hal yang sama ke gue, jadi ya gue bertanya hal yang sama ke orang-orang yang sedang mengalami "nasib" yang sama dengan gue..... what a life....

Terus pembicaraan lanjut ke another cycle, keinginan setiap orang untuk mempunyai lebih dari yang ada sekarang, udah punya motor pengen punya mobil, udah punya mobil pengen punya yang lebih bagus, udah punya ini pengen yang itu, dan daftar pengen bertambah terus. Kata orang yang namanya kebutuhan tidak pernah turun, selalu meningkat. Sekali sudah makan ayam, pastinya ingin lagi makan ayam, sekali sudah mempunyai barang bagus biasanya sudah tidak mau mempunyai barang dengan kualitas dibawahnya. Inilah yang secara pintar di"tangkap" oleh para produsen, memproduksi barang-barang untuk memenuhi keinginan para user/pembelinya. Ini kata orang Marketing, namanya menangkap kebutuhan dan keinginan pembeli, kalau secara teori ekonomi, kalau gak salah ini namanya Economy Macro.... kalau teorinya gue ya itu tadi "kutukan hidup"....hahaha. Sorry, bukannya gue anti kehidupan, gue hanya gak punya nama yang lebih indah untuk memberi nama istilah cycle ini....hehehe

First Posting - rutinitas pagi hari

Pagi ini, sambil bak, bab, sikat gigi, mandi, pakai baju dan tentu saja berdandan, berjuta ide muncul tentang apa yang akan gue tuliskan di blog ini, tapi setelah duduk didepan notebook dan mulai menulis, rasanya semua ide itu menguap entah kenapa. Gue pernah terpikirkan untuk membeli suatu alat yang dapat merekam semua yang gue pikirkan dan alat tersebut lalu menuliskannya .... hehehe... bo'ong banget enggak sih, mana ada alat sepert itu, eh tapi siapa tahu ya ? suatu ide tetap suatu ide, yang mungkin beberapa tahun, belasan tahun atau puluhan tahun kemudian baru bisa diimplementasikan.

Tapi rutinitas pagi gue memang panjang, selalu sama tapi somehow tidak pernah membosankan, mungkin membosankan tapi mungkin tidak, yang pasti semua rutinitas itu sudah bisa dilakukan sambil merem dan enggak perlu mikir, saking tiap hari sudah dilakukan. Kan kata pepatah "ala bisa karena biasa". Rutinitas pagi hari dimulai dengan - ini yang paling mungkin terjadi - teriakan Audrey "Ayah..... sudah siang... ayo bangun... sudah ada matahari" .... Audrey memang "anak siang"... kapan-kapan deh cerita tentang si kecil ini dan "alergi"nya dia untuk tidur dikala ada matahari sedang tersenyum ke dia. Lalu gue dikiss oleh suami- hhmmm - lalu dikiss oleh Audrey - kalau dia sedang mood -, lalu gue tertatih-tatih mencari pintu kamar, terkadang mata masih setengah merem. Melirik ke meja makan, sudah tersedia teh buat suami dan susu buat gue, berarti sang asisten sudah bangun, kalau belum berarti mengetuk pintu kamarnya dulu biar dia bangun. Lalu melirik ke jam dinding, mengeluh dalam hati, oh jam kenapa dirimu selalu berlari dipagi hari dan berjalan santai disiang hari ? Lalu berpikir sekilas, membuat roti sarapan dulu atau membenahi tas sekolah Audrey dulu.... pilihan yang sulit, soalnya masih terbayang indahnya tempat tidur.....

Lalu membuka lemari pakaian Audrey, pintu kanan untuk mengambil tas sekolahnya, lalu pintu kiri untuk mengambil baju sekolahnya.... aduh ini si mbaknya, pasti deh pakaian Audrey berantakan, terus ini baju seragam kok enggak ada rok bawahnya ? .... terus itu celana pendeknya buat baju ganti kok enggak ada ? .... Selesai, lalu kembali ke ruang makan, buka kulkas, ambil 3 kotak susu buat bekal Audrey disekolah.

"Mama... aku gak mau bawa baju ganti yang itu.... yang merah aja....", "Mama, kok susunya yang itu sih, aku maunya yang gambar monyet".... "Ah Mama... jangan ditaruh sini tasnya, kan bayiku jadinya kejepit".... and on... and on.....and on....

Bikin roti tiga tangkep lapis coklat dan meses buat Audrey, satu buat bekal sekolah dan 2 buat sarapan. Terus satu tangkep pake mentega dan di-toast untuk suami. Selesai, sekarang siapkan baju untuk kekantor. Hhmm... siapkan baju suami dulu, lebih gampang, tinggal ambil - enggak usah dipikirkan yang mana - toh sama aja, kemeja lengan panjang, warna biru, putih, garis-garis, krem atau apapun kayaknya enggak ada yang perhatikan, yang penting bersih dan rapi, dengan paduan warna celana panjang yang sesuai. Sekarang baju gue.... hhmm, minggu lalu udah pake baju yang ini, baju yang itu kayaknya bikin gue gendut, baju yang ini ribet, baju yang itu sempit, baju yang ini enggak enak jatuhnya dibadan, baju yang itu terlalu gombrong, nah baju yang ini katanya bikin gue cantik, tapi kan baru 3 hari yang lalu dipakai ...... ah yang ini aja, dipadukan dengan .... hhhmmm.. ya udah celana panjang hitam aja....

Selesai, sekarang olahraga ringan, biar badan sedikit hangat supaya mandi enggak kedinginan. Angkat barbel setengah kilo sebentar, putar-putar pinggang sedikit, stretching agak lamaan. Yup, udah 5 menit, selesai sekarang giliran mandi. Eh suami sudah ganteng tuh, sudah mandi dan segar, lirik jam dinding .. jam 5.45... walah, dia sudah siap berangkat sedangkan gue belum mandi! Suami pamitan mau berangkat, kiss sana sedikit, sini sedikit, berbalas kata "I love you"... terus gue menuju kamar mandi. Audrey heboh katanya mau ikut ayahnya sampai pos satpam... sedangkan gue mulai masuk ke tempat "pertapaan suci".

Keluar dari tempat "pertapaan suci", melirik sekilas ke jam dinding.... what ? masak gue mandi "aja" sampai setengah jam.... kebangetan gue... bersungut-sungut sambil berjanji besok mau taruh jam dinding di kamar mandi jadi bisa tahu gue sudah berapa lama didalam situ.... - niat yang tidak mungkin dan tidak pernah terlaksana, besok paling setengah jam lagi -, Terus Audrey nemenin gue berpakaian dan dandan. Tiap pagi dia mengulurkan bantuan, membuka kancing-kancing kemeja baju gue supaya siap pakai, dan tiap pagi dia deklare "aku baik Ma, aku bantuin Mama".... oke deh. Lalu dia bermain-main dengan bantal, kadang bantal-bantal itu menjadi "adiknya", kadang menjadi mobil, kadang menjadi benteng, kadang menjadi rumah .... tergantung imajinasinya hari itu. Atau bermain dengan handuk..... hari ini dia mainan handuk lalu berteriak riang "Mama... aku jadi burung... punya sayap"... sambil mengembangkan handuk yang diselempangkan di pundaknya..... hhhmm... mirip sih kayak burung....

5 menit terakahir.... buru-buru minum susu, grap semua barang-barang untuk dibawa, manasin mobil, kiss-bye to Audrey dan off to work. Siap tempur untuk 1,5 s/d 2,5 jam perjalanan ke kantor.... and a life begins ....