Wednesday, August 8, 2007

Apa arti cinta ?

Gue shock, bener-bener shock. Teman dekat gue, yang gue tahu kehidupan perkawinannya berjalan normal, baik-baik saja, sudah dikarunia anak 3 orang, cewek cantik semua, masih balita, alias ketiganya dibawah usia lima tahun, tiba-tiba kasih kabar dia mau mengajukan gugatan cerai... Tuhanku, betapa misterinya hidup ini.

Minggu sore itu dia telp gue, tanya mengenai lawyer yang bisa membantu banyak hal, katanya sih untuk urusan kantor, tapi gue menangkap kegelisahan dan kesedihannya, gue tanya if there is anything I can do help her, or if she needs someone to talk to. Dia jawab iya, dia perlu teman buat ngobrol. Ketika dia cerita semuanya, yang nangis bukan dia, tapi gue... suaminya selingkuh dengan orang yang selama ini dekat dengan dia, dan kelihatannya serius karena mereka sudah tunangan, makanya teman gue itu memutuskan untuk mundur dan mengajukan gugatan cerai.... gue enggak punya kata-kata buat menghibur dia, gue yakin semua kata-kata hiburan tidak ada yang bisa menghibur dia.

Teman-teman gue pernah cerita, jangan pernah mengajak adik, bahkan adik kandung, teman perempuan atau saudara perempuan untuk tinggal bersama kita. Kenapa kata gue ? Katanya seperti pepatah Jawa, cinta bisa bersemi karena sering bertemu. Dengan tinggal serumah, benih cinta yang tidak pernah ada bisa menjadi ada. Teman-teman gue juga sering mengingatkan, jangan sering-sering curhat atau berbagi cerita dengan teman lawan jenis. Kenapa kata gue ? Katanya seperti pepatah Jawa, cinta bisa bersemi karena sering ketemu.

Oke deh, memang cinta bisa bersemi kapan saja, tidak peduli walaupun kita sudah mempunyai cinta yang lain, walaupun kita masih remaja, walaupun kita sudah mempunyai keluarga, walaupun kita sudah mempunyai cucu, walaupun cinta itu sendiri sepertinya mustahil akan ada. Tapi apakah harus mengatasnamakan cinta untuk merusak sesuatu yang sudah ada ?

Kata teman-teman gue, perselingkuhan bisa terjadi karena seseorang merasakan ada yang hilang dari pasangannya dan menemukannya pada diri orang lain. Perselingkuhan juga bisa terjadi karena dia menemukan sosok yang tidak ada didiri pasangannya pada diri orang lain. Perselingkuhan juga bisa terjadi karena kebutuhan, karena keinginan diri sendiri, atau karena memang tergoda oleh orang lain. Tapi yang menjadi pertanyaan gue, apakah alasan-alasan itu menjadi sah ketika harus mengorbankan pasangan yang selama ini telah menemani dalam suka dan duka ? Apakah alasan-alasan itu menjadi sah ketika harus mengorbankan kebahagiaan keluarganya ? Apalah alasan-alasan itu menjadi sah ketika harus mengorbankan cinta anak-anaknya yang juga diperoleh atas nama cinta ? Apakah alasan-alasan itu menjadi sah ketika harus mengorbankan apa yang telah dia miliki untuk sesuatu yang masih belum pasti ?

Mungkin jawabannya iya, mungkin jawabannya tidak.

Bagi gue, mempertahankan perkawinan di era sekarang itu sulit sekali, dan keutuhan perkawinan menjadi barang langka. Tidak ada teori dan tidak ada buku yang bisa mengajarkan kita bagaimana caranya mempertahankan perkawinan. Semuanya benar-benar kembali ke diri masing-masing, apakah kita mau mempertahankan apa yang sudah kita miliki sekarang untuk besok dan selamanya.

Bagi gue, untuk jatuh cinta itu gampang sekali, tapi mempertahankan rasa cinta itu sulit sekali. Tidak ada teori dan tidak ada buku yang bisa mengajarkan kita bagaimana caranya mempertahankan rasa cinta ke pasangan. Semuanya benar-benar kembali ke diri masing-masing.

Dan pada akhirnya hanya bisa memasrahkan semuanya kepada Ilahi, Dia yang lebih tahu jalan kehidupan kita, berdoa dan berusaha untuk yang terbaik, hanya itu yang bisa kita lakukan.

2 Comments:

Blogger GusKoko said...

Kalau ada per-cerai-an yang paling menderita adalah anak.

August 8, 2007 11:52 PM  
Anonymous temen lama said...

kita emang nggak pernah nebak jalan hidup spt apa ya, Min...

Semua bisa aja terjadi tanpa kita rencanain, tanpa kita mau...

*miris baca tulisanmu*

November 19, 2007 7:53 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home