The power of love
Pernah dengar ada yang bilang kalau dia mencintai pasangannya dengan memberikan segenap hatinya kepada pasangannya ? Pernah dengar lagu patah hati ini "... take it my heart when you go... cause I don't need it anymore..."
Tanpa bemaksud mengecilkan arti cinta yang lain, tapi rasanya semua itu hanya klise kalau dibandingkan dengan apa yang dialami oleh teman gue ini. Jika ungkapan-ungkapan itu hanya sebatas kata-kata, teman gue, F, dia benar-benar memberikan hatinya kepada istrinya tercinta dalam pengertian seutuhnya, dalam arti yang sebenarnya.
Teman gue, F dan istrinya, mereka sudah dikarunia satu anak perempuan yang lucu banget. Tapi musibah sedang dekat dengan kehidupan keluarga kecil ini. Gue lupa tanya detailnya, tapi F bilang memang sudah lama diketahui kalau istrinya menderita hepatitis C, namun selama ini diyakini istri F sudah bersih alias sudah sembuh. Sampai ketika istrinya hamil sikecil, diketahui ternyata istrinya juga sedang menderita kanker hati. Gue pernah tanya sana sini, juga baca beberapa artikel mengenai kanker hati, kebanyakan memang kanker hati dipicu dari hepatitis C ini, yang walaupun memang cara penularan hepatitis C tidak semudah rekan-rekannya Hepatitis A dan B, namun si C ini memang lebih "sadis" terhadap tubuh manusia.
Singkat kata, dokter di Singapore memvonis kalau istrinya tidak segera mendapatkan transplantasi hati maka umurnya hanya tinggal hitungan hari. Memang manusia hanya bisa menduga, mendiagnosa, memprediksi, sedangkan kata akhir terpulang dari keputusan Yang Diatas, tapi manusia harus berusaha kan ? Donor hati ini, tidak seperti donor organ tubuh lainnya yang harus mendapatkan utuh satu organ sehingga harus menunggu sampai pendonornya meninggal. Hati bisa ditransplantasi sebagian, dan hati bisa tumbuh kembali sehingga pendonornya pun bisa tetap melanjutkan aktifitasnya. Sedangkan kriteria termudah dari pendonor hati adalah harus mempunyai golongan darah yang sama. Untuk hal ini, Orang tuanya istri F tidak mungkin mendonor karena sudah tua, kedua abang istrinya juga tidak memenuhi kriteria karena alasan kesehatan. Sedangkan F, selama ini meyakini bahwa golongan darahnya tidak sama dengan sang istri, sehingga hanya bisa pasrah tanpa tahu harus berbuat apa.
Suatu hari, tanpa tahu kenapa, F menuju ruang pemeriksaan lab, dan meminta dicheck golongan darahnya. To his suprise, ternyata golongan darahnya sama dengan sang istri. Mungkin saja F lupa golongan darahnya, atau memang dia tidak tahu sebenarnya golongan darahnya, atau ini memang mukjizat Tuhan ?
Mengetahui hal ini, tanpa membuang waktu, mereka berangkat ke Singapore agar F dapat mendonorkan darahnya. Dimeja operasi diketahui ternyata kerusakan hati sang istri sudah banyak sekali, sehingga F harus mendonorkan lebih dari sebagian hatinya kepada istrinya.
Jadi jika ada yang bertanya .... apakah ada orang yang benar-benar mencintai istrinya dan memberikan hatinya kepada sang istri ? Gue sekarang menjawab dengan yakin.... ada, teman gue F.
Apakah ini happy ending ? Belum.
Hari ini gue mendapatkan berita sedih lagi, setelah 2 tahun berlalu, setelah kesehatan mereka berdua sudah pulih, istri F kembali didiagnosa kalau kankernya telah menyebar sampai ke otak. Sakit kepala yang sering diderita istri F selama ini ternyata adalah kanker yang berasal dari kanker hatinya, dan sekarang telah sebesar 3 cm.... Astaghfirullah, ternyata cobaan Allah belum selesai untuk mereka.
Sekarang mereka berdua sedang di Singapore, kembali melewati hari-hari di Rumah Sakit untuk berjuang mendapatkan kesembuhan kembali.
Doa kami untuk mu.
F, tabah ya teman.


0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
Links to this post:
Create a Link
<< Home